Sampai kapan bayangan itu terus mengikuti setiap langkahku ?. Menyeberangi lautan bahkan benua pun telah ku lalui, namun ternyata bayangan itu tetap bersamaku. Padahal kutahu, itu hanyalah sebuah kejadian yang terjadi 7 tahun yang lalu, mungkin sebuah kejadian yang menumbuhkan benih kebencianku terhadap Ayah. Benar, Aku masih ingat Ayah menamparku karena Ayah lebih menyayangi Kak Riby, padahal kakak yang salah tapi Aku yang harus meminta maaf, bahkan ayah dengan teganya menamparku. Aku sempat menangis waktu itu, karena Aku benar-benar sedih dan kecewa, entah mengapa yang ditampar adalah pipiku tapi Aku justru merasakan sakit dihati, bagaikan tertusuk duri.
Hingga kini kejadian itu masih menjadi momok bagi diriku. Sepertinya kejadian itu telah bersatu dengan jiwa dan ragaku, dan satu lagi kejadian itu bahkan telah menjadi mimpi rutinku setiap malam. Setiap bangkit dari mimpi itu, Aku selalu membuka tirai jendela untuk mencari angin malam yang sejuk. Aku menatapi Sang Rembulan yang memancarkan cahaya cinta kasihnya, penuh kelembutan. Sungguh malam yang pekat, sunyi dan sepi. Mataku berkaca-kaca memandang indahnya sang rembulan yang membawaku terbuai dalam lamunan sosok bundaku tercinta. Setiap mengingat Bunda, mataku berkaca-kaca selalu meneteskan air mata, Bunda meninggal waktu melahirkanku. Bibi pernah bilang padaku bahwa nama Airin adalah pemberian Bunda sebelum Beliau meninggal. Bunda berharap Aku bisa tumbuh menjadi gadis yang tegar.
Hingga kini kejadian itu masih menjadi momok bagi diriku. Sepertinya kejadian itu telah bersatu dengan jiwa dan ragaku, dan satu lagi kejadian itu bahkan telah menjadi mimpi rutinku setiap malam. Setiap bangkit dari mimpi itu, Aku selalu membuka tirai jendela untuk mencari angin malam yang sejuk. Aku menatapi Sang Rembulan yang memancarkan cahaya cinta kasihnya, penuh kelembutan. Sungguh malam yang pekat, sunyi dan sepi. Mataku berkaca-kaca memandang indahnya sang rembulan yang membawaku terbuai dalam lamunan sosok bundaku tercinta. Setiap mengingat Bunda, mataku berkaca-kaca selalu meneteskan air mata, Bunda meninggal waktu melahirkanku. Bibi pernah bilang padaku bahwa nama Airin adalah pemberian Bunda sebelum Beliau meninggal. Bunda berharap Aku bisa tumbuh menjadi gadis yang tegar.
***
kukemasi alat-alat lab danbergegas untuk pulang. Kusambar jaketku yang tergantung di dinding itu, lalu Aku berjalan keluar meninggalkan laboratorium itu. Sang surya telah ditutupi oleh awan mendung, sepertinya akan hujan. Angin bertiup dan segera Aku mengenakan jaketku, karena suhu udara sangat dingin. Kukayuh sepedaku dengan hati-hati. Hujan tadi pagi telah membuat jalan ini menjadi becek dan licin. Suasana jalan ini tampak sunyi tanpa lalu lalang kendaraan. Suasana sunyi ini semakin mengecutkan hati kecilku. Jalan berkilo-kilo ke rumah ku akhiri dengan menjejakkan kakiku di teras rumah.
" Udah pulang, Non?", tanya bibi menatapku antusias.
" Iya bi, Aku laper nich", rayuku dengan sikap manja.
" Non mau makan apa?, bibi membalas rayuanku.
" Tidak, Aku nunggu yang lain aja", balasku dengan sedikit memaksa.
" Hari ini Non Riby gak pulang, Nyonya pergi ke rumah temannya ikut arisan", bibi menjelaskan
" Kalau begitu Ayah saja", balasku kesal
" Tapi....",
" Tapi apa?, apa aku tidak boleh makan bersama Ayah", emosiku mulai meledak
" Bukan begitu maksud bibi, non, rh tuan udah pulang", bibi menuju ke depan
" Tuan, non fani menunggu tuan dari tadi, katanya mau makan bareng", bibi menjelaskan
" Aku masih banyak kerjaan, suruh fani makan duluan", balas Ayah
" Aku tahu semuanya tidak menyukaiku, mengapa semua selalu menghindar dari ku", Aku mulai muak dengan semua ini.
Tanpa mempedulikan perut keroncongku, Aku langsung menyambar tasku dan langsung menuju ke kamar tidurku. Di sisilah tempatku menyembunyikan diri dari semua masalah ini. Sekarang hatiku semakin yakin bahwa Ayah membenciku, bukan benci tapi sangat membenciku. Untuk apa Aku hidup di dunia ini?, untuk apa Akulahir di keluarga ini?. seperinya ini bukan tempatku. Lalu kuputuskan untuk pergi dari sini, melanjutkan studiku ke sekolah yang berasrama. Setidaknya dengan belajar Aku akan melupakan semua ini. Kuutarakan niatku untuk tinggal di sekolah berasrama kepada Ayah. Bibi sempat merayu Ayah untuk membujukku tinggal, hati kecilku juga berharap Ayah bisa melontarkan kata "tidak" dari mulutnya untuk membujukku tinggal. Namun, hal itu sepertinya tidak akan pernah terjadi, bahkan Ayah mengatakan tinggal di sekolah berasrama akan membuat diriku tumbuh lebih mandiri. Aku tahu itu semua hanya alasan belaka. Semua itu kosong, Ayah lebih berharap Aklu pergi jauh dari kehidupannya. Entah mengapa ku pati dengan semua ini. Aku mulai kesal dan benci, emosiku mulai meledak untuk yang kedua kalinya. Aku memandang Ayah dengan perasaan benci, lalu Aku lari meninggalkan rumah itu. Rumah yang telah menanamkan bibit kesedihan semenjak Aku lahir. Sepertinya kali ini Aku tidak merasa gugupuntul membuka pintu rumah ini. Dengan hati yang kaku, Aku melangkah keluar rumah. Ya, meninggalkan rumahlah tujuanku sekarang. Maafkan Aku Tuhan, Bunda. Aku sudah tidak tahan lagi. Kini benih kebencian itu semakin merajalela, tumbuh subur menjalar ke seluruh jiwa dan ragaku, bahkan sampai ke benakku. Rasa benci telah membuat tubuhku panas, berbagai sumpah dan caci telah timbul dibenakku, Aku telah buta kesadaran. Tiba-tiba Aku tertegun dan tanpa Aku sadari sebuah truk berkecepatan tinggi tepat berada di depan rumah menuju ke arahku. Aku tak bisa mengelak lagi.
***
Aku berdiri di sebuah gubuk tua. Tempat ini rasanya angker. Tadi bukannya Aku ketabrak truk, tapi jok Aku bisa berada di sini?. Angin bertiup sepoi-sepoi menegakkan bulu romaku, lalu Aku memberanikan diri untuk masuk ke gubuk itu. Tiba-tiba ada suara parau yang mengejutkan aku, ketika Aku berpaling ada sosok seorang nenek tua yang berdiri di belakangku.
" selamat datang ke toko kebenaran", ungkap nenek itu dengan suara parau
" Anda siapa?", balasku sedikit gugup
" Saya adalah pemilik toko ini, Engkau pasti berhadapan dengan masalah sampai tersasar ke toko ini, bahkan yang paling mengagumkan adalah engkau bisa melihat toko ini".
" maksud nenek apa?, Aku nggak ngerti", hatiku mulai berdegup kencang
" Hanya orang bermasalah yang bisa melihat toko ini, sebenarnya toko ini hanyalah sebuah ilusi yang diciptakan oleh orang seperti dirimu, di sini ada benda pusaka yang bisa memberimu jawaban kebenaran. Rasanya jam arloji ini lebih cocok untukmu", jelas nenek
" Jam arloji!, emang dengan adanya jamini waktu bisa berputar balik?", balasku dengan perasaan ragu
" Mengapa tidak, segala kemungkinan bisa terjadi dalam kehidupan ini, mintalah pada jam arloji ini apa yang anda inginkan dan ingat hanya satu kali saja".
Tanpa berpikir panjang, Aku meminta jam arloji itu untuk membawaku balik ke masa lampauku. Masa Bunda masih hidup, aku kangen bangat sama bunda. Aku terkejut dengan apa yang Aku lihat, ternyata apa yang dikatakan nenek itu memang benar. Jam arloji ini bisa memutarbalikkan waktu. Aku berada di rumah sakit dan mataku tertuju pada sebuah kalender yang terpampang di dinding itu,tanggal 25 mei 1989. Ljo! inikan tanggal lahirku dan yang terlihat di depanku adalah Ayah, Bunda dan Aku waktu bayi. Tampaknya Ayah sangat gembira dengan kelahiranku. Tapi mengapa Ayah bersikap dingin padaku?. Tepat jam 9 teng Bunda meninggal dunia, apa yang Aku lihat ini persis seperti yang bibi ceritakan padaku. Ayah tampak sedih sekali dengan kepergian Bunda. Ayah berjanji kepada Bunda akan mendidik Aku menjadi anak yang tegar, walaupun tanpa kasih sayang seorang Bunda. Ayah mengendongku dengan penuh kasih sayang, ternyata Ayah tidak membenciku. Aku tahuitu, Ayah bersikap dingin padaku karena Ayah ingin Aku tumbuh menjadi gadis yang tegar, tanpa kasih sayang seorang Bunda. Jam arloji ini telah berputar lagi dan membawaku ke waktu Aku berumur 3 tahun. Aku tekena penyakit campak waktu itu. Aku melihat Ayah tidak tidur semalaman karena khawatir dengan kondisiku. Ya Tuhan, ternyata hal ini adalah kenyataan. Hal ini merupakan suatu kebenaran, bukan cerita yang dikarang oleh bibi untuk menghiburku. Mengapa Aku tidak percaya dengan ucapan bibi waktu itu. Aku sudah buta selama ini. Kebutaan ini disebabkan benih kebencian yang menutup mata hatiku. Ternyata selama ini Aku telah salah sangka terhadap Ayah, bahkan yang lebih ironisnya Aku telah meragui kasih sayang seorang Ayah. Sungguh buta hatiku, Aku mulai jijik dengan diriku sendiri. Aku tahu waktu Aku ditabrak oleh mobil pasti Ayah sangat mengkhawatirkan keadaanku. Sekarabf Aku ingin memeluk Ayah dengan erat. Entah kenapa rasa benci itu kini telah tiada. Jam arloji berhenti dan semua ilusi itu kini telah sirna.
" Non, kamu sudah sadar non, bibi bernapas lega
" Aku di mana bi? dan badan saya sakit", kataku lemas
" Kamu di rumah sakit non. Kamu sudah terbaring 3 hari 3 malam karena kecelakaan non", jelas bibi
" Bi, Ayah mana?, Aku ingin minta maaf sama Ayah bi, karena selama ini Aku salah, dalam keadaan koma saya telah melihat semua kebenaran bi", Aku memohon dengan linangan air mata
" Non mimpi apa?, kebenaran apa yang dimaksud non. Non jangan menangis ya... nanti non tambah sakit", bibi membujuk
" Aku tadi bermimpi bi, Aku mimpi balik ke waktu Aku lahir dan waktu Aku berumur 3 tahun. Aku suda tahu mengapa Ayah bersikap dingin padaku, Ayah sebenarnya sayang padaku, Ayah ingin Aku tumbuh menjadi gadis yang tegar, Ayah merasa sayang dan iba padaku karena semenjak Aku lahir kehilangan kasih sayang seorang bunda, benarkan bi?", jelasku untuk lebih meyakinkan mimpiku
" Benarnon, Tuan sangat menyayangi non fani, karena non fanilah satu-satunya anak kandunf tuan. mana ada orang tua yang tidak sayang sama anaknya sendiri. Non Riby adalah anak angkat tuan sebelum non fani lahir. Tuan masih ingat pernah berjanji dengan almarhum nyonya untuk mendidikmu menjadi gadis tegar, non berehat aja dulu",bibi membujuk
Entah mengapa kali ini aku mendengar ucapan bibi, mungkin kondisi fisikku masih lemah, dalam sekelip mata aku sudah tertidur pulas. bibi keluar menutup pinyu dengan hati-hati.
***
Seminggu sudah Aku berada di rumah sakit. Tapi, Aku tidak melihat sosok seorang Ayah. Aku berjalan mendekati jendela, lalu Aku membuka tirai jendela mencari angin segar. Aku kemudian menuju ke samping ranjang untuk mengambil segelas air putih, ketika itu bibi masuk. Tanpa ragu Aku langsung menanyakan kepada bibi di mana Ayah, kok selama Aku sakit Ayah tidak berada di sampingku. Kali ini bibi baru berani membuka mulut mengatakan bahwa Ayah telah meninggal dunia. Aku hanya terdiam sejenak. Aku tahu bibi tidak mengatakan hal ini sebelumnya karena khawatir Aku akan shock setelah mendengar kabar buruk ini. Bibi menyerahkan barang peninggalan Ayah kepadaku. Sebuah buku hitam, tepatnya disebut diary. Ya, inilah diary Ayah. Diary yang mengisi segala hati Ayah yang selama ini sulitku tebak. Entah mengapa mendengar kabar meninggalnya Ayah Aku tidak menangis, mungkin air mataku tertahan dipelupuk mataku. Pandangan mataku kosong. Aku memberanikan diri untuk membuka dan membaca diary itu. Kali ini AKu benar-benar menangis, air mataku tak tertahankan lagi. Isi diary ini telah membuktikan bahwa Aku benar-benar salah sangka selama ini. Aku meragui kasih sayang seorang Ayah. Ayah bersikap dingin karena ingin Aku tumbuh menjadi gadis yang tegar. Ayah berharap gadis yang tegar ini kelak bisa membuat secangkir kopi untuknya. Ya, hanya secangkir kopi tidak lebih dari itu. Itulah permintaan Ayah. Permintaan yang tidak sempat kutunaikan karena salah sangka. Bahakan lebih berdosanya diriku karena tidak mengetahui Ayah suka minum kopi. Aku hanya bisa marah-marah dan meluangkan waktu untuk belajar tanpa ingin belajar memahami Ayah. Masih pantaskah Aku menerima sumsum tulang pemberian Ayah ini. Aku kehilangan sumsum tulang , Ayah berani meresikokan nyawanya demi menyelamatkanku. Sebenarnya Ayah boleh memilih untuk tidak menyumbangkan sumsum tulangnya, karena Ayah tahu usianya sudah tidak memungkinkan dirinya untuk menyumbang. Tapi mengapa Ayah lebih memilih menyumbangkan sumsum tulangnya?. Ayah lebih memahamiku dibandingkan Aku memahami dirinya. Aku salah Ayah, dengan siapa Aku harus meminta maaf. Aku bisa membuat secangkir kopi, tapi kepada siapakah secangkir kopi ini Aku tuju?. Aku menangis dan bibi hanya bisa menemaniku di samping. Aku hanya bisa [pasrah dan berpengandaian, seandainya di dunia ini ada jual obat kesal dan waktu bisa berputar ulang layaknya mimpiku tadi.... dan jam arloji itu bisa digunakan untuk yang kedua kalinya. Tapi sudah terlamabat.. Nasi sudah menjadi bubur. Ketika Aku memandangi langit melalui jendela, Aku merasa Ayah memberiku harapan untuk tumbuh menjadi gadis yang tegar.
***T A M A T***
Created By : RiggO (Akt B)








Tidak ada komentar:
Posting Komentar